Metode Persidangan

Sejak zaman keberadaan (awal muasal), manusia telah diperhadapkan dengan masalah. Masalah adalah proyeksi pikiran tentang keraguan akan jaminan kebenaran berdasarkan suatu persepsi yang kita sebut penolakan. Hanya satu jalan yang yang menjawab dan menyelesaikan semua persepsi tersebut, yaitu ; berfikir (sendiri) dan bermusyawarah (bersama).

Pada tahun 384-322 SM, Aristoteles seorang filsuf terkemuka yunani menyatakan bahwa manusia adalah Zoon Politicon, artinya manusia harusnya hidup berkelompok. Aristoteles sadar bahwa manusia takkan mampu hidup sendiri dan bertahan layaknya dewa. Karena manusia takkan mampu menanggung masalah hidupnya secara social (kebutuhan) dan moral (psikologis). Olehnya itu aristoteles berfilsafat untuk memperbaiki paham manusia akan jati diri manusia sebagai sosialitis humanis (Manusia sosial).

1. SEJARAH

Kata Musyawarah berasal dari bahasa arab yag diambil dari Kata ( شورى ) Syûrâ. Kata Syûrâ bermakna mengambil dan mengeluarkan pendapat yang terbaik dengan menghadapkan satu pendapat dengan pendapat yang lain. Dalam Lisanul ‘Arab berarti memetik dari serbuknya dan wadahnya. Kata ini terambil dari kalimat (شرت العسل) saya mengeluarkan madu dari wadahnya. Berarti mempersamakan pendapat yang terbaik dengan perumpamaan madu, dan bermusyawarah adalah upaya meraih madu itu dimanapun ia ditemukan, atau dengan kata lain, pendapat siapapun yang dinilai benar tanpa mempertimbangkan siapa yang menyampaikannya.

Musyawarah dapat berarti mengatakan atau mengajukan sesuatu. Kata musyawarah pada dasarnya hanya digunakan untuk hal-hal yang baik, sejalan dengan makna dasarnya. Sedangkan menurut istilah fiqh adalah meminta pendapat orang lain atau umat mengenai suatu urusan. Kata musyawarah juga umum diartikan dengan perundingan atau tukar pikiran. Perundingan itu juga disebut musyawarah, karena masing-masing orang yang berunding dimintai atau diharapkan mengeluarkan atau mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah yang di bicarakan dalam perundingan

a. Musyawarah dalam Alqur’an

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ  (ال عمران: ١٥٩

Artinya:

Maka disebabkan rahmat Allahlah, engkaubersikap lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap kasar dan berhati keras. Niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan tertentu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya”.

   (QS. Ali ‘Imran: 159)

b. Musyawarah dalam Al Hadist

Telah diriwayatkan dalam Al-Hasan r.a., bahwa Allah swt. sebenarnya telah mengetahui bahwa Nabi saw. sendiri tidak membutuhkan mereka (para sahabat, dalam masalah ini). Tetapi, beliau bermaksud membuat suatu sunnah untuk orang-orang sesudah beliau.

Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau pernah bersabda:

ما تشا ورقوم قط الا هدو الارشد امرهم

“Tidak satu kaum pun yang selalu melakukan musyawarah melainkan akan ditunjukkan jalan paling benar dalam perkara mereka”

Musyawarah yang baik adalah dengan cara bersidang, olehnya itu betapa pentingnya kita mengetahui metode-metode dalam persidangan dalam menjadikan sidang sebagai wadah yang sangat penting dalam menyelesaiakan segala permasalahan yang ada. Khususnya dikehidupan masa kini (dunia pendidikan dan organisasi).

Contoh salah satu MUSYAWARAH di organisasi kedaerahan HIPMIN-Makassar Thn 1998

***

2. METODE PERSIDANGAN

Sidang adalah Forum formal Penyelesaian masalah. Metode berarti cara. Sedangkan persidangan adalah Pelaksanaan sidang (forum formal penyelesaian masalah). Jadi pengertian metode persidangan adalah Tata cara atau teknik menjalankan mekanisme sidang. Dalam membahas metode persidangan, kita tidak hanya membicarakan tentang bentuk persidangan / model forum, namun juga kita harus mengetahui macam-macam persidangan.

Dalam kehidupan sehari penyelesaian masalah merupakan miniature dari pelaksanaan sidang. Meski tak formal dan tak teratur, para peniliti percaya penyelesaian masalah menggunakan ide seseorang (jenis cara penyelesaian) jauh lebi efektif dari segi waktu (cepat) dan sugestifitas (kenyamanan).

 1. SIDANG

Sidang adalah pertemuan dua orang atau lebih yang memiliki kepentingan yang sama untuk mengkaji persoalan tertentu melalui suatu mekanisme yang teratur dan terarah. Sidang dilakukan Untuk :

  1. Membahas masalah
  2. Mengurai isi masalah
  3. Menyatukan pendapat
  4. Memperoleh kesepakatan, dan;
  5. Mengambil keputusan

2. JENIS SIDANG

Jenis sidang adalah karakteristik sidang. Jenis sidang berdasarkan kebutuhan dan dipengaruhi oleh lingkungan itu sendiri.  Jenis sidang terbagi atas 2, yakni jenis sidang formal dan non-formal ;

a) Sidang Formal

Sidang formal adalah sidang yang dilaksanakan dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :

  1. Memiliki wadah (Contohnya: Kantor, organisasi atau lembaga)
  2. Memiliki pemimpin sidang (Presidium) dan anggota sidang (peserta)
  3. Memiliki tempat sidang
  4. Memiliki agenda sidang
  5. Memiliki perangkat sidang : (Contohnya: Palu sidang, kelengkapan kesekretariatan dan draft pembahasan) ; dan
  6. Menggunakan metode persidangan (Tata cara resmi)

b) Sidang Non-Formal

Sedangkan dalam sidang non-formal, tidak harus memenuhi kriteria pada sidang formal (di atas). Sidang ini menggunakan nilai kewajaran dan tidak terikat dari mekanisme yang ada.

Contoh : Curhat, diskusi, pertemuan biasa dll

( Cat : Dalam pembahasan Metode persidangan, yang kita bahas adalah SIDANG FORMAL )

***

3. MACAM-MACAM SIDANG

Pada dasarnya sidang bermacam-macam, berikut macam-macam sidang :

  • Sidang Pembuka
  • Sidang Pleno
  • Sidang Komisi

a) Sidang pembuka

Sidang ini dibuka oleh pelaksana acara seperti panitia atau Sterring Comittee, biasanya membahas tata tertib pemilihan dan pengangkatan PRESIDIUM SIDANG.

b) Sidang Pleno

Biasa disebut sidang besar yang diikuti oleh seluruh peserta sidang tanpa kecuali. Sidang pleno dilakukan untuk membahas isi dari agenda sidang yang telah dirumuskan.

Salah satu Contoh  Pleno pada Musyawarah Organisasi kedaerahan (HIPMIN-MAKASSAR) :

  • Pleno I (Pemilihan presidium sidang)
  • Pleno II (Pembahasan Agenda sidang)
  • Pleno III (Pembahasan Tata Tertib Persidangan)
  • Pleno IV (Laporan pertanggung-jawaban pengurus)
  • Pleno V (Laporan Kerja Dewan organisasi)
  • Pleno VI (Penetapan anggota komisi)
  • Pleno VII (Pembahasan AD/ART)
  • Pleno VIII (Pembahasan Keorganisasian)
  • Pleno IX (Pembahasan Pedoman Kerja)
  • Pleno X (Pembahasan Rekomendasi)
  • Pleno XI (Pembahasan Kriteria pemilihan Presidium Dewan Organisasi)
  • Pleno XI (Pemilihan dan penetapan Presidium Dewan Organisasi)
  • Pleno XII (Pembahasan kriteria FORMATTUR dan MID-FORMATTUR)
  • Pleno XIII (Pemilihan dan penetapan FORMATTUR dan MID-FORMATTUR

c) Sidang Komisi

Sidang ini dibentuk untuk mempertajam pembahasan, yang tidak mungkin tercapai dalam sebuah sidang yang besar dan dengan tingkat pengetahuan peserta yang beragam. Selesainya dibahas maka setiap komisi akan memaparkan hasil keputusan dari setiap komisi dan dirangkumkan untuk melengkapi arsip pleno yang telah ada.

***

BAB II

SUBJEK SIDANG

Subjek sidang adalah semua pelaku yang berperan aktif dalam pelaksanaan Acara persidangan. Yakni ;

  • Penanggung jawab Acara persidangan (Kepanitiaan)
  • Pelaku sidang

Latar belakang

Perlu diketahui bahwa persidangan merupakan sebuah kegiatan. Guna merencanakan, membentuk, dan melaksanakan kegiatan ini maka diperlukan tim atau pengggerak penggagas pelaksanaan acara. Dalam dunia organisasi pembentukan tim kerja sangatlah penting dalam mewujudkan tujuan diatas. Olehnya itu dibentuklah sebuah tim pelaksana (Kepanitiaan) sekaligus penanggung jawab kegiatan dalam menyukseskan acara yang dimaksud.

1. KEPANITIAAN

Kepanitiaan adalah salah satu dari sekian jenis tim pelaksana yang dibentuk guna menjalankan visi dan misi sebuah pereanaan gerakan (kegiatan dan non kegiatan). Kepanitaan adalah sebuah struktur (tim) yang dibentuk berfungsi mengarahkan/ melaksanakan/dan mengevaluasi sebuah program kerja berdasarkan aturan dan mekanisme yang telah diatur dan direncanakan.

 Dalam Kepanitian terbagi atas 2 wilayah komando :

  • Steerring comitte (Panitia pengarah), dan;
  • Organizing committee (Panitia pelaksana)

1) Steerring comitte (SC) / (Panitia pengarah)

Berfungsi mengarahkan organizing comitte (Panitia pelaksana) dalam menjalankan program kerja yang telah diatur. SC Berhak mem-VETO (tegur) dan bertanggung jawab atas pelaksanaan kerja organizing comitte (Panitia pelaksana). Kepemipinan SC di komandoi oleh seorang kordinator dalam timnya.

Tugas umumnya :

  1. Senantiasa mengarahkan panitia mengawal jalannya persidangan
  2. Membuka persidangan dengan resmi
  3. Memimpin sidang pembuka
  4. Membahas pemilihan presidium sidang
  5. Menyiapkan draft pembahasan sidang
  6. Mengumpulkan hasil ketetapan persidangan guna pengarsipan (Prosiding)
  7. Menerima hasil ketetapan sidang dari presidium sidang.
  8. Membubarkan Presidium SIdang
  9. Menutup persidangan dengan resmi

2) Organizing committee (OC) / (Panitia pelaksana)

Berfungsi sebagai tim pelaksana kerja. OC juga berhak mengatur dan membahas (rapat) strategi penyelesaian dalam melaksanakan program kerja. Kepatuhan akan fungsi kontrol pengawasan dari SC ke OC adalah Mutlak dan hirarki. Kepemimpinan OC dipegang oleh seorang Ketua dan dibantu oleh pembantu utama (Sekretris dan Bendahara) dalam pengelolaan materi dan perangkat kepanitiaan.

Tugas umumnya :

  1. Senantiasa mengawal Musyawarah (Persidangan)
  2. Melayani peserta sidang
  3. Melayani Presidium sidang
  4. Bertanggung jawab akan akomodasi dan pelaksanaan Musyawara
  5. Bertanggung jawab akan keamanan pelaksanaan
  6. Bertanggung jawab akan keamanan draft sidang
  7. Bertanggung jawab melayani peserta peninjau (Tamu)
  8. Mempersiapkan pelaksanaan pembukaan dan penutupan
  9. Bertanggung jawab akan partisipasi peserta sidang
  10. Bertanggung jawab akan pelayanan logistik dan akomodasi peserta

***

PELAKU SIDANG

Pelaku sidang adalah subjek/pelaksana dari kegiatan sidang. Diantara fungsi dan kewajibannya. Pelaku sidang adalah elemen penting dalam pelaksanaan persidangan. Pelaku sidang Terdiri atas 2 subjek :

  1. Presidium sidang
  2. Anggota sidang

***

1. PRESIDIUM SIDANG

Presidium sidang adalah orang yang memimpin acara persidangan (Pleno). Para presidium sidang ditunjuk secara mufakat oleh anggota (Peserta) sidang di rapat pembuka. Jumlah Presidium WAJIB ganjil (HakekatPresidium) dengan jumlah minimal Tiga (3) orang yang terdiri atas :

  • (1 orang) Pimpinan sidang (Ketua)
  • 1 orang Sekretaris
  • (Jumlah ganjil) Anggota

Olehnya itu Jumlah presidium terhitung dari mulai, 3, 5, 7, 9, dan seterusnya. Peningkatan jumlah pelaku presidium hanya bertambah dengan status anggota. Sedang Pimpinan ketua dan Sekretaris tetap pada susunan 1 orang.

a) Pimpinan sidang (ketua)

Adalah anggota perisidium yang bertugas memimpin jalannya sidang, menampung serta mempertimbang-kan pendapat peserta sidang, dan memutuskan keputusan sidang. Kriteria seorang pimpinan sidang :

  • Tegas
  • Cerdas
  • Bijaksana
  • Berwawasan luas

b) Sekretaris pimpinan sidang

Adalah pembantu utama pimpinan sidang dalam hal kerja administrasi (mencatat, mengolah, dan melaporkan) hasil dalam pembahasan persidangan kepada pimpinan sidang guna membantu menentukan keputusan sidang.

 Kerja-kerja utama seorang sekretaris :

  • Menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan pimpinan sidang (ketua) contoh: Alat tulis, kertas, Palu,
  • Menyiapkan lembar agenda sidang
  • Menyiapkan lembar absen peserta sidang
  • Menyiapkan lembar konsideran sidang
  • Mencatat hal-hal yang penting pada alur pembahasan sidang
  • Mencatat pertanyaan, saran, dan pendapat peserta sidang yang telah diterima dan disetujui oleh pimpinan sidang ketua

Kriteria sekretaris :

  • Cerdas
  • Teliti
  • Menguasai ilmu administrasi dasar

 c) Anggota Pimpinan sidang

Adalah pembantu kedua pimpinan utama (Ketua dan sekretaris) dalam hal memberikan sumbangsih pemikiran (Nasehat dan masukan) dalam memutuskan hasil sidang maupun siap menjadi pengganti dalam memimpin jalannya persidangan.

***

B.  ANGGOTA SIDANG

Anggota sidang adalah peserta sidang. Peserta sidang berhak mengikuti persidangan dengan ketentuan sebagai berikut :

  • Anggota sidang adalah peserta undangan yang mengikuti proses persidangan
  • Anggota sidang adalah orang yang diundang oleh Kepanitiaan/wadah (Pelaksana kegiatan)

Anggota sidang terbagi atas 2 (dua) :

  1. Anggota sidang tetap
  2. Anggota sidang peninjau

 1. Anggota sidang tetap                                            

Adalah peserta sidang undangan yang masih terdaftar sebagai anggota resmi pelaksana sidang misalnya : terdaftar sebagai anggota  aktif di database organisasi.

2. Anggota sidang peninjau

Adalah peserta undangan sidang yang bukan dari ruang lingkup resmi pelaksana contoh: Sesepuh, Alumni, dan tamu organisas maupun tamu dari organsasi lain.

***

BAB III

Perangkat Sidang

Perangkat sidang ada 2 (dua) jenis yakni :

  1. Materi sidang
  2. Alat sidang

 1. Materi sidang

Materi sidang adalah bahan-bahan persidangan. Segala sesuatu yang digunakan guna untuk menjalankan persidangan. Materi persidangan antara lain sebagai berikut:

  • Draft sidang (pembahasan)
  • Konsideran (Surat ketetapan)

 2. Alat sidang

Adalah komponen pelengkap dalam pelaksanaan sidang guna menunjang jalannya pelaksanaan metode sidang. Macam-macam alat sidang :

  • Palu sidang
  • Pengeras suara

a)       Palu sidang

Merupakan alat pengambilan keputusan. Ini pula merupakan alat yg paling urgen dan harus selalu diperhatikan keberadaannya. Palu sidang alangkah baiknya terbuat dari material rendah bahan berat dan murah. Tujuannya agar memudahkan pengguna dalam mengunakannya (Ringan, misalnya: kayu) dan mudah didapat (dijangkau pembelian dan pembuatannya). Tentang penggunan palu sidang akan dibahas pada Bab lanjutan (Mekanisme persidangan).

 b)       Pengeras suara

Tak begitu urgen, namun bila pelaksanaannya menggunakan wadah (tempat yang besar dan luas) dan terdapat kelemahan fisiologis (pita suara) pada pelaksana persidangan, maka alat ini direkomendasikan harus ada.

***

BAB IV

Bentuk sidang

Bentuk Sidang adalah model dan pola bentuk alur persidangan. Setiap bentuknya mempunyai makna tersendiri dalam perjalanan sidang. Adapun bentuk dan modelnya adalah sebagai berikut :

Bentuk U

Merupakan bentukan persidangan yang paling efektif karena semua peserta sidang bisa benar-benar terfokus perhatiannya. Hal ini merupakan salah satu kelebihan dari bentuk persidangan ini. Selain itu semua sejajar dan dapat berinteraksi sesama fungsi. Baik Peserta sesama peserta sidang, maupun Prisidium sidang dengan peserta sidang.

Bentuk sidang 1

Bentuk lingkaran

Bentuk persidangan memiliki filosofis klasik yakni, semua sederajat dan sama. Olehnya itu sering dilaksanakan pada pertemuan-pertemuan antar negara. Namun forum ini memiliki kelemahan, yaitu tidak dapat debedakan secara tegas antara pemateri, moderator, dan notulen dengan posisinya terhadap para peserta sidang. posisi duduk Prisidium sidang dengan hadapan membelakangi peserta juga terlihat tidak sopan bagi mereka pemahaman timur. Yang menjadi  Fokus peserta terletak pada pengeras suara tanpa melihat ekspresi prisidium sidang. Contoh forum yang pernah menggunakan bentul persidangan seperti ini yaitu Konferensi Meja Bundar (KMB).

Bentuk sidang 2

Bentuk berpanjar menurun

Sangat efektif namun forum ruangan sangat susah dicari dan didapatkan. Di eropa, dan di amerika sudah menggunakan teknik forum ini. Namun tidak etis pada pertemuan struktural karena posisi yang berbeda mempengaruhi pemahaman derajat seseorang, olehnya itu banyak digunakan sebagai media ruanga belajar pada perkuliahan di dunia modern.

Bentuk sidang 3

Bentuk komisi

Kelebihan bentuk sama seperti Bentuk U. Namun setiap mejanya terpisah dan hanya diduduki oleh orang-orang yang mempunyai satu tujuan. Kelemahannya mungkin pada layar pandang kearah prisidium sidang. Namun sangat tepat pada Sidang / rapat komisi. Sebab pada saat itu mereka tak berkonsentrasi dengan presidium sidang, melainkan anggota sesama komisinya.

Untitled-6

***

BAB IV

Mekanisme sidang

 1. Tata Cara dalam persidangan

  • Persidangan bersifat musyawarah untuk mufakat.
  • Persidangan dipimpin oleh Pimpinan sidang.
  • Peserta sidang berbicara setelah mendapat izin dari Pimpinan sidang.
  • Peserta sidang tidak boleh diganggu selama berbicara.
  • Pimpinan sidang dapat mengenakan ketentuan mengenai lamanya para anggota berbicara.
  • Bilamana pembicaraan melampaui batas waktu yang ditetapkan Pimpinan sidang dapat memperingatkan pembicaraan supaya mengakhiri pembicaraannya dan pembicara harus menaati ketentuan itu.

2. Penggunaan Palu Sidang

Penggunaan palu sidang adalah dengan menggunakan ketukan dari palu sidang agar menghasilkan suara dari kode keputusan. Ketukan palu digunakan pertama kali di Perancis sejak pasca revolusi perancis. Saat itu rakyat perancis menggulingkan pemerintahan monarki dan mengambil alih pemerintahan. Disaat-saat rakyat membutuhkan suatu kesepakatan bersama, maka diadakanlah sidang akbar untuk menentukan nasib rakyat. Saat itu rakyat terlalu banyak dan sukar mendengar keputusan persidangan nasional tersebut. Maka beberapa dari pemimpin sidang mengabil solusi dengan mengunakan lonceng gereja sebagai tanda keputusan dari setiap pembahasan sidang. Dengan dilaksanakan tradisi ini maka orangorang berlomba menciptakan alat sidang tersebut dengan menggunakan bahan yang lebih ringan dan tak berbahaya maka terpilihlah palu sebagai alat sidang tersebut. Hal ini karena palu dapat menghasilkan suara yang keras juga sederhana dan tak berbahaya.

Ketukan 1 kali

  • Men-Sahkan keputusan sementara
  • Pengoperan palu pimpinan sidang
  • Mencabut skorsing sidang
  • Mencabut pending sidang
  • Peninjauan kembali (PK)

Ketukan 2 kali

  • Menskorsing sidang
  • Mempending sidang

Ketukan 3 kali

  • Membuka acara persidangan
  • Menutup acara persidangan
  • Men-Sahkan surat ketetapan sidang

Ketukan berutun

  • Menenangkan forum

***

PENJELASAN DAN CONTOH REALISASI 

Ketukan 1x

Mensahkan keputusan sementara, pencabutan skorsing sidang (jangka pendek), dan Peninjauan kembali. Contoh kasus :

1. Mensahkan keputusan sementara

  • Pimpinan       : “Bagaimana peserta sidang ? sepakat ?
  • Peserta          : “Sepakat..!!”
  • Pimpinan       : “Sah” (Tok)

2. Pencabutan skorsing

Contoh : “Dengan mengucapkan bismillahirrahmannirrahim skorsing sidang saya cabut..” (Tok)

 3. Peninjauan kembali

Contoh : “Berdasarkan saran dan pendapat oleh forum sidang akan kekeliruan pada pasal pembahasan sebelumnya maka sidang   saya tinjau kembali..”  (Tok)

 

 Ketukan 2x

Ketukan 2 kali digunakan untuk Men=SKORSING / Mem-PENDING sidang. Sampai sekarang para pelaku organisasi masih terlihat bingung dalam membedakan status keduanya, ada yang sembraut menggunakan istilah Skorsing dan pending. Padahal dalam etika sidang makna kedua tidaklah sama.

Perbedaan Skorsing dan Pending terletak pada aturan waktu dan tempat pelaksanaan. Bila Sidang diberhentikan dan peserta diperbolehkan meninggalkan tempat maka sidang berstatus di SKORSING. Status persidangan dalam pelaksanaan Skorsing adalah OFF, yang berarti semua pelaksanaan dan aktifitas kerja diberhentikan hingga pada waktu ditentukan. (Cat: Tak boleh ada aktivitas sidang pasca dikeluarkannya perintah skorsing)

Namun Bila Sidang/Pimpinan sidang di minta/meminta penundaan sementara tanpa harus harus meninggalkan tempat maka sidang DIPENDING (TUNDA). Status Persidangan dalam Pelaksanaan Pending tetap ON (Jalan), namun aktivitas (kerja) utamanya saja yang diistirahatkan. (Cat: Diskusi dan implementasi sidang kecil boleh dilakukan, tapi tak bisa dijadikan pleno resmi kecuali pending dicabut, pada status ini pula para peserta bisa istirahat)

1. Menskosing sidang

Contoh : “Mengingat Pleno ke-3 telah usai, dan mempertimbangkan waktu yang tidak lagi kondusif. Maka Dengan ini, sidang saya nyatakan skorsing hingga pada pukul 09.00 WITA, besok pagi”. (Tok tok)

2. Mempending sidang

Contoh : “Mengingat pada hitungan absensi sidang peserta belum memenuhi kuota persidangan dan dengan berdasarkan acuan Tata Tertib persidangan pada PASAL 5 Ayat 1 yakni : “Peserta sidang harus berjumlah ½ + 1 dan PASAL 5 Ayat 2 yakni : “Bila sidang tidak memenuhi kuota maka sidang dipending selama 2×15 menit” serta PASAL 5 Ayat 3 yakni “Apabila ayat kedua telah dilaksanakan maka sidang tetap dilanjutkan”. Maka dengan ini saya nyatakan sidang dipending selama 2×15 menit. setelah itu sidang saya nyatakan tetap dilanjutkan. (Tok Tok)

Ketukan 3x

Mensahkan keputusan akhir sidang, menetapkan keputusan konsideran ketetapan hasil sidang) membuka dan menutup persidangan (ceremonial) secara resmi dan keseluruhan. Contoh kasus :

1. Membuka acara persidangan

  •  Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanrirahim Musyawarah Anggota XXI HIPMIN Makassar pada tanggal 21 – 25 Juli 2011 ini saya nyatakan DIBUKA dengan resmi (“Tok..tok..tok”)

2. Menutup acara persidangan

  •  Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabbil alamin Musyawarah Anggota XXI HIPMIN Makassar pada tanggal 21- 25 Juli 2011 ini saya nyatakan DITUTUP dengan resmi (“Tok..tok..tok”)

3. Mensahkan surat ketetapan sidang (Konsideran)

Contoh:

  • Mengingat…………Memperhatikan………… Memutuskan dan menetepakan ……………………….(Isi)…………………………… “Makassar 26 Februari 2009 pada pukul 24.00 WITA. Pimpinan sidang Fathir M.Natsir, Sekretaris Wahyudi Makuling, anggota Taufik Muhammad, anggota M.Fajri Wahid, anggota Ashar A.Hamid. Dengan ini saya nyatakan SAH”. (Tok tok tok..)

 

Ketukan keras berulang dan beruntun

 Ketukan keras berulang dan berulang-ulang adalah ketukan penegas yang berguna mengendalikan forum atau mengambil alih forum dalam keadaan situasiona l: Menenangkan peserta sidang (forum).

Contoh :

  • (Tok tok tok tok tok..) Forum harap tenang…!!!

***

MODEL KEPUTUSAN SIDANG

1) Keputusan demokrasi

Proses demokrasi dalam pengambilan keputusan dapat terjadi bila kelompok mayoritas  setuju dengan  pembahasan. Metode ini sering digunakan karena didasari oleh prinsip-prinsip demokrasi.

 2) Keputusan mufakat

Keputusan yang diambil secara langsung dan terbuka, dimana seluruh peserta dapat menerimanya scara bulat.

3) Keputusan demokrasi

Proses demokrasi dalam pengambilan keputusan dapat terjadi bila kelompok mayoritas setuju dengan pembahasan. Metode ini sering digunakan karena didasari oleh prinsip-prinsip demokrasi.

***

PERAN PELAKSANA SIDANG

 Peserta

  • Menyajikan informasi berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.
  • Menyampaikan pemikiran secara lengkap dan jelas.
  • Menyampaikan bukti-bukti yang mendukung menanggapi pertanyaan atau pernyataan yang dilontarkan

***

BAB V

Istilah  Persidangan

1. Pending, adalah penundaan sidang (dengan terikat aturan sidang / situasional. Contoh : Tidak Quorum, lobyng dll)

2. Skorsing, adalah penundaan sidang (dengan tidak terikat aturan sidang. Contoh : Istirahat dll)

3. Lobying, merupakan proses mencari titik temu antara peserta sidang (posisi dan oposisi) diluar persidangan guna mencapai mufakat untuk diputuskan dalam forum sidang.

4. Votting, merupakan prosesi pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak setelah jalan musyawarah mengalami kebuntuan.

5. Quorum, merupakan syarat sah kuota (kuantitas) peserta sidang uyang telah ditetapkan dalam aturan persidangan.

7. Interupsi,  Ialah suatu bentuk selaan atau memotong pembicaraan dalam sidang karena adanya masukan yang perlu diperhatikan untuk pelaksanaan sidang tersebut.

8. ProsidingHasil-hasil ketetapan sidang/Musyawarah yang telah di bukukan

***

MENGENAL TEKNIK INTERUPSI

Bentuk Interupsi

Interupsi Poin of Order : Dilakukan jika terdapat disfungsi peserta sidang (termasuk petugas” sidang) yang dianggap mengganggu jalannya persidangan.

Interupsi Poin of Clarification : Dilakukan jika terdapat penyampaian pendapat atau informasi yang butuh klarifikasi.

Interupsi Poin of Information : Dilakukan untuk menyampaikan informasi tambahan yang dianggap membantu maupun informasi yang sifatnya tehnis.

Interupsi Poin of Personal Previllage : Dilakukan jika terdapat pendapat yang terlalu menyudutkan pihak tertentu, diluar substansi permasalahan

Tata cara pelaksanaan Interupsi

  • Dilaksanakan dengan mengangkat tangan terlebih dahulu, dan berbicara setelah minta ijin dari presidium sidang
  • Interupsi mempunyai hukum khusus yakni : Interupsi wajib diterima dan ditanyakan jenisnya langsung oleh Pimpinan sidang.

Contoh realisasi Interupsi

  • PESERTA : “Interupsi pimpinan sidang..!!!”
  • PIMPINAN SIDANG : “Yaa.. Interupsi apa..?
  • PESERTA : “Interupsi Poin of Information (Interupsi Informasi)”
  • PIMPINAN SIDANG : “Diterima, silahkan..”
  • PESERTA : “Sekarang sidang sudah menunjukan pukul 02.00 WITA, harap pertimbangannya pimpinan sidang”
  • PIMPINAN SIDANG : “Baik terima kasih”

Interupsi pula dapat ditolak oleh pimpinan sidang bila tidak sesuai dengan persoalan pada sidang. Contoh :

  • PIMPINAN SIDANG : “Para peserta sidang harap tenang kami akan membaca hasil keputusan vooting sidang ..!!!”
  • PESERTA : “Interupsi pimpinan sidang..!!!”
  • PIMPINAN SIDANG : “Yaa.. Interupsi apa..?
  • PESERTA : “Interupsi Poin of Clarification (Interupsi klarifikasi)”
  • PIMPINAN SIDANG : “Interupsi ditolak..”
  • PESERTA : “Tapi pimpinan sidang ini urgent”
  • PIMPINAN SIDANG : “Sudah 36 masukan dan anda sudah memberikan 8 masukan, bila anda tidak diam dan mendengarkan hasil vooting ini, saya beri anda sanksi peringatan akhir”

***

CATATAN AKHIR

Pelaksanaan Musyawarah sangatlah menarik bila kita memahami aturan didalamnya, kecerdikan dan strategi menghasut lawan dalam memenangkan aspirasi kita sering menjadi keasyikan kita tersendiri. Tapi kita tak pernah paham bahwa dengan begitu, retorika kita berkembang pesat karna memaksa kita tuk tetap bicara, bicara dan bicara.

Apabila anda melihat banyak peserta tidak terlalu aktif berdebat dalam sebuah Musyawarah atau persidangan. Yakin saja akan dua (2) hal, satu bahwa ia kurang paham akan metode persidangan karna takut salah, kedua bahwa ia memang memiliki disorientasi kesehatan karna memiliki gangguan kecemasan saat bicara hehe.. Just kidding.

“Terima kasih telah membaca artikel ini, artikel ini saya dedikasikan bagi penikmat etika persidangan dan juga  bagi para kader muda di HIPMIN MAKASSAR, serta tak lupa pula bagi para sahabat aktivis yang selalu bersama saya membesarkan organisasi ini di tahun 2005-2013

Thanks’

13 thoughts on “Metode Persidangan

  1. makasi infonya niihh ,, kebetulan saya ditunjuk men jadi ketua panitia Musyawarah mahasiswa ,, jadi paling tidak saya harus tau sedikt tentang sidang ,, makasi yaa ,, sya jadi terbantu .. XD

  2. terima kasih kami dari SMP Nusantara yang akan mengadakan LDK ,,,,materi persidangan adlh salah satu materi kami……

  3. sangat bermanfaat karena jadi sumber dan bahan materi saya, dlm kegiatan LDK di Sekolah saya SMK-PP Neg Rea Timur….Thanks before…….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s